Tips Membuat Fanfiksi yang Baik

Tips-Tips Membuat Fanfiksi yang Baik

Kembali dengaku, Zenhaku, yang tengah berusaha lari dari kehidupan nyatanya yang cukup membuat kepala hampir pecah. Oke,ini terlalu berlebihan.

Waktu pertama kali denger kata fanfiksi. Aku langsung mikir. Apa itu fanfiksi? Siapa yang membuat? Untuk apa? Siapa tokohnya? Tema tentang apa? Kok ada genre, disclaimer, dan istilah-istilah lain yang cukup asing di telinga.

Saat itu masih pertengahan tahun 2011. Awal-awal aku mulai masuk di dunia tulis menulis. Dulu, masih belum seperti sekarang ketika harus membuat blog atau membuat fanfiksi yang banyak disukai orang. Waktu itu, aku hanya mengenal fanfiksi Korea yang tengah dibaca kakakku. Ia mengatakan kalau ini adalah tulisan yang membuat fans secara tidak langsung bisa ikut masuk ke dalam kehidupana artis idolanya tanpa harus tatap muka.

Karena apa? Ini tulisan kita yang buat. Jadi, mau kita menulis apapun, kalau protes, kan tinggal bilang. Nanti, kita cukup mengatakan ‘tidak suka, tidak usah dibaca.’

Nah, daripada kebanyakan basa-basi, kita mulai saja pembahasannya.

Pertama, kita harus kenal terlebih dahulu apa itu fanfiksi.

Fanfiksi adalah suatu karya tulis yang dikarang oleh fans dengan menggunakan nama karakter/orang/idolanya sebagai tokoh utama dalam ceritanya. Dan kerennya, banyak para artis yang sudah cukup lama menjadi ‘objek’ pembuatan fanfiksi ini tidak marah dan menganggap santaitatulisan para fans. Para fans juga tidak dikenakan pelanggaran hak cipta, karena mereka membuat cerita atas dasar imajinasi dan kreativitas masing-masing.

Nah setelah tahu fanfiksi, untuk yang ingin mencoba membuatnya, bisa perhatikan tips berikut

1) BAHASA

Sebaiknya, gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti dan tidak berbelit-belit. Banyak penulis yang menggunakan bahasa yang terlalu hiperbolis untuk menunjukkan suatu latar dan kejadian di fanfiksi. Mungkin menurutnya, itu akan menambah emosi ketika seseorang membaca tulisannya. Padahal, itu hanya akan membuat pembacanya merasa alurnya hanya berputar-putar. Cukup gunakan bahasa sederhana. Bila perlu, bisa ditambahkan majas yang sesuai dengan keadaan dan penggambaran latar serta alur yang bisa dikatakan ‘jalan’ dan tidak membingungkan.

 

2) Paragraf dan Tanda Baca

Jika menulis fanfiksi, tolong perhatikan susunan paragrafnya. Jangan sampai pembaca merasa bingung ketika membaca susunan paragraf yang sudah kita atur. Mungkin, ada beberapa paragraf yang sudah sangat panjang dan masih membahas satu topik, dibagi menjadi dua bagian. Rasanya tidak begitu menikmati membaca. Jadi, usahakan untuk tidak membuat paragraf yang terlalu panjang dan terkesan bertele-tele.

Jangan lupa gunakan tanda baca yang tepat. Seperti juga pada netiket, jangan gunakan tanda baca berlebih, seperti tanda seru atau tanda tanya lebih dari dua sekaligus. Juga kapitalisasi yang berlebih (ingat bahwa huruf kapital sama dengan berteriak). Banyak juga yang sering pakai tanda titik berlebih (..) yang tidak wajar. Penggunaan titik lebih dari satu itu hal yang wajar, benar jika si penulis menggunakan tiga titik. Yang salah ialah ketika si penulis hanya menggunakan dua titik saja.

Tanda tiga titik atau lebih dikenal dengan sebutan “elipsis” adalah bagian di mana si penulis menggambaran kalimat terputus-putus ataupun adanya bagian yang dihilangkan dengan catatan, jika ada bagian yang menggunakan elipsis sebagai pengakhir kalimat, maka perlu digunakan empat titik; tiga titik penghilang teks (elipsis) dan satu titik untuk mengakhiri kalimat.

Antara kalimat (sesudah titik) jangan lupa beri spasi. Supaya mata tidak lelah membacanya. Juga yang sering terlupakan, antara kalimat percakapan.

Bandingkan :

“Naruto! Hari ini kan hari ulang tahun Sasuke!” pekik Sakura, “Kau ingat tidak? “O, iya,” kata Naruto, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.”Jangan bilang kau tidak ingat,” sahut Sai kalem.

Dengan :

“Naruto! Hari ini kan hari ulang tahun Sasuke!” pekik Sakura.

“Kau ingat tidak?” lanjutnya.

“O, iya,” kata Naruto, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Jangan bilang kau tidak ingat,” sahut Sai kalem.

 

Bagaimana ?

Enak yang bawah kan? Tips yang ini sangat perlu untuk dipraktekkan. Toh, kalau seperti itu, mata kita nggak terlalu memaksakan untuk melihat tulisan yang terlalu rapat dan membuat mata sakit.

3) Isi/ Subtansi

Ini adalah poin paling penting dari semua poin tulisan. Isi ini dibagi menjadi dua, yaitu :

a)CANON

Suatu fanfiksi yang dibuat berdasarkan fakta-fakta dan kejadian yang sebenarnya. Bisa diartikan, suatu kejadian pada manga/ anime, atau kehidupan nyata artis yang bersangkutan. Fanfiksi ini, bisa juga berarti side story atau sisi lain yang berusaha diungkap secara tersirat oleh fans melalui tulisan.

b)FANON/ IMAGINE

Suatu fanfiksi yang dibuat atas kreativitas seorang penulis. Dalam kasus ini, dia bebas mengeluarkan seluruh ide-idenya. Ia mau membuat karakter seperti apa, yang bagaimana, semua seolah ia menjadi Tuhan. Karena apa? Penulis yang beraliran FANON ini, cenderung suka hal yang tidak mainstream dan seolah menjadi orang paling tahu di cerita fanfiksi ini.

Beda dengan CANON yang membuat cerita berdasar fakta-fakta, dan memodifikasinya sedikit. Fanon mutlak buatan penulis.

4) Riset

Perlu nggak sih? Kan bukan buat tugas atau karya ilmiah? Ini kan Cuma cerita. Mungkin banyak dari kalian yang suka beranggapan seperti itu. Hal ini tentu salah.

Dengan riset, kita bisa tahu tentang bahan-bahan yang membantu kita untuk menulis sebuah fanfiksi.

Misal, kita membuat tema PENERBANGAN. Otomatis, kita akan mencari riset yang berkaitan dengan tema. Kan tidak mungkin kalau kita membahas penerbangan tapi nggak tahu apa-apa dan malah sok tahu dengan nama pesawat, bandara, atau perlengkapan lainnya? Kan malu sama yang baca. Disini, secara tidak langsung, gengsi dan pengetahuan dipertaruhkan. #hasek

Kita bisa ambil riset dari berbagai sumber. Contoh :

Ensiklopedia (Kalau gak punya bukunya bisa tanya Mbah Kakung Google atau Mas Yahoo)

Sumber dari buku maupun dari web, kalau kita mau membahas sesuatu lebih dalam. Dalam hal ini maka Mbah Kakung adalah sahabat terbaik kita.

Orang-orang terdekat kita, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Selain itu, jangan lupa untuk memperbanyak perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia. Supaya pembaca tidak bosan, jika sudah menulis satu atau dua kata yang sama, jangan diulang-ulang.

Misal setelah dialog tokoh/ percakapan diakhiri dengan ‘kata Naruto’, ‘Kata Sakura’, ‘Kata Sasuke’ hal ini bakalan jadi boring. Variasikan kata-kata itu supaya menarik untuk dibaca.

5) MARY SUE AND GARY/HARRY STU

Dalam FF mungkin kita ngerasa gak puas dengan tokoh canon atau tokoh yang memang sudah asli ada. Mungkin akan lebih bagus kalau ditambahkan dengan tokoh buatan kita sendiri.

Misal kalian membuat seorang OC (Out Chara/ Buatan Sendiri). Seorang gadis keturunan Uchiha yang punya perangai cuek tapi baik hati, pintar tapi tidak peka, dan namanya Hikari Uchiha. Di fanfiksi ini, Hikari berteman dengan Itachi. Dia sangat menyukai Itachi, dan ingin suatu saat Itachi melihatnya tidak sebagai sahabat, tapi sebagai seorang wanita.

Sebenernya ini boleh saja, apalagi kalau penulisnya mampu menyalurkan tulisannya dengan halus jadinya pembaca gak ngerasa. Tapi kalau pembacanya sudah tahu alurnya, dan cenderung mainstream, dan pembaca mungkin akan berkomentar “Kayaknya endingnya aku tahu..”, “Secara gak langsung ini orang fanatik dan ambisius sekali dengan Itachi” itu berarti kita udah nyiptain tokoh Mary Sue. Tokoh perfect sebagai tumpahan ambisi self insert sang author cewek, kalau cowok istilahnya Gary/Harry Stu ya.

Kalau misalnya membuat cerita seperti ini, usahakan untuk tidak memaksakan karakter buatan kita mendominasi cerita. Disini aku bicara tentang fanfiksi yang anime. Kalau yang tentang artis-artis mungkin kakakkku akan menjelaskan di tulisan selanjutnya.

6) Genderswitch

“What the heck are you doing!” mungkin ada beberapa dari kalian yang sudah akrab dengan istilah ini. Bagi orang yang sudah biasa, hal ini akan terdengar wajar. Tapi, kalau orang yang belum terbiasa mendengar, mereka pasti merasa aneh.

Genderswitch adalah istilah yang digunakan di dalam fanfiksi untuk membuat karakter yang sudah ada menjadi karakter dengan beda 180 derajat.

Contoh: Sasuke Uchiha yang asli cowok tulen rada judes itu, diubah oleh beberapa author menjadi sosok gadis cantik yang tabiatnya Sasuke sekali. Istilah gampangnya, ya Sasuke versi cewek. Kalau author straight atau netral, mereka tidak masalah membaca fanfiksi dengan karaktr seperti ini. Karena mereka beranggapan kalau GS adalah hal yang secara tidak langsung mengatakan kalau fanfik itu ada tokoh ceweknya.

Nah kalau fujoshi/fudanshi, beda lagi. Hal ini sudah terbukti pada kakakku. Ia tidak sengaja menlihat tulisan di laptopku. Waktu itu, aku menggunakan GS Luhan EXO. Dan langsung saja kakakku merasa kalau Luhan adalah dirinya sendiri. Tetap laki-laki walaupun gantengnya keterlaluan hingga kelihatan cantik.

Tapi, aku bilang saja kalau disini, karakter yang kubuat OC. Toh disini, author berperan sebagai Tuhan dan sutradara dalam sebuah takdir cerita.

Dan terakhir, EDIT. Jangan lupa untuk meminta bantuan kepada orang yang terdekatmu yang tahu tentang fanfiksi untuk menjadi pembaca (istilah kerennya Beta-reader #hasek)

Sekian dariku…

Tulisan ini disadur dari https://kpopfanfictionschool.wordpress.com/2013/09/02/bagaimana-menulis-fanfic-yang-baik/comment-page-1/ dengan beberapa pengubahan seperlunya, karena perbedaan pendapat dan jalur aliran penulisan fanfiksiku.

Terima Kasih!

Salam GingerSensei.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s